
Image via Wikipedia
Apakah manusia jujur sekarang ini? Tidak mengklaim karya orang sebagai bagian dari karyanya? Apakah ada manusia yang mengajarkan kesederhanaan? Apakah ada manusia yang selalu ingin mengatakan kebenaran?
Tidak mudah menjawab siapakah pemilik paham asketisme yang sejati. yah.. mungkin malah tidak ada kalo kita bicara tentang manusia sempurna.. no bodys perfect bro” tapi .. mungkin ada ketika kita bicara personifikasi sosok yang seperti dia atas.
Asketik, berasal dari bahasa Yunani, asketis pada mulanya bermakna pelatihan ” biasanya para Atlit Yunani dulu, melakukan latihan keras sebelum pertandingan di bukit Olimpus, yang salah satunya adalah mengosongkan atau mengasingkan diri dari nafsu-nafsu duniawi. Demikian pula dalam agama-agama besar besar dunia, langkah asketisme dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai transpormasi sehingga jiwa manusia mampu satu tahap lebih tinggi menuju sempurna. Dalam kamus besar indonesia III asketisme bermakna “paham yang mempraktekan kesederhanaan kejujuran dan kerelaan berkorban”
Nah Didunia ini, engga banyak tokoh yang bisa menjadi contoh dan panutan saat kita bicara kesederhanaan, kebenaran dan kejujuran. Dalam deretan kenabian, mungkin kita bisa menyorongkan Nama Muhammad S.A.W, Yesus atau Budha Gautama sebagai sosok yang selaras dan segaris dengan kebenaran, kejujuran dan kesederhanaan tadi. Merekalah yang akhirnya menjadi pijakan tiga pijakan kemanusiaan itu sebagai dasar ajaran yang mereka sebarkan dan akan selalu menjadi inspirasi buat manusia , bahkan sampai detik ini.
Sosok lain yang bisa dijadikan panutan adalah Mahatma Gandhi dari india. Dia bukanlah nabi, bukan pula malaikat bukan pemilik kebenaran yang mutlak. Dia hanya manusia biasa yang memilih menjadi sederrhana, jujur dan berusaha memaknai kebenaran dengan benar mungkin pernah salah, mungkin dahulu ia pernah juga engga jujur dan mungkin dulunya pernah juga tidak melakukan kebenaran, Tapi dalam perjalanan waktu, inilah sosok yang berusaha melintas batas perbedaan dengan melakukan kebaikan yang sesungguhnya.
Kita?Saya dan Anda? Masihkah menjadi mahluk, manusia, blogger, pecinta hidup atau penikmat hidup yang hedonis yang bangga dengan kebendaan yang kita miliki? bukan kah kita selalu menganalogikan kesuksesan , kehebatan dengan seberapa banyak benda yang kita miliki? Bukankah kita selalu melihat kekuatan dengan seberapa ngetopnya kita, seberapa kerennya kita.. ? tanpa itu semua kita adalah orang lemah, orang marginal dan orang yang tidak sukses?
Kalau anda penganut asketisme, tentu akan menjungkirbalikan itu semua, kesederhanaan bukan berarti kita harus menjadi manusia sampah, tapi bisa melihat manusia lain sebagai satu manusia sederajat, siapapun dan bagaimanapun dia. Kejujuran bukan berarti kita harus jadi pendeta,ustadz atau rahib. Kejujuran secara sederhana adalah ketika kita tidak menginjak dan bisa melayani orang lain dengan karya jujur kita. Sementara kebenaran adalah saat kita menjadi diri sendiri. ….salam blogger”